Jakarta – Perkembangan penting dalam program eksplorasi luar angkasa NASA menjadi sorotan pekan ini, dengan kemajuan signifikan dicapai oleh kontraktor utama untuk pendaratan di Bulan. Axiom Space mengumumkan keberhasilan menyelesaikan uji coba termal vakum (thermal vacuum test) tanpa awak pertama untuk unit mobilitas extra-vehicular generasi berikutnya, yang dikenal sebagai Axiom Extra-vehicular Mobility Unit (AxEMU).
Pakaian antariksa ini sangat krusial karena telah dipilih oleh NASA untuk digunakan oleh para astronot dalam misi pendaratan berawak di Bulan, dimulai dari Artemis III. Axiom kini menjadi satu-satunya perusahaan yang mengerjakan pakaian antariksa Bulan setelah Collins Aerospace mundur dari kontrak awal.
Uji Coba Kritis di Kutub Selatan Bulan
Uji coba thermal vacuum ini merupakan langkah penting dalam mengumpulkan data mengenai bagaimana AxEMU akan bertahan di lingkungan ekstrem Kutub Selatan Bulan. Pakaian ini dirancang untuk memungkinkan astronot bekerja di wilayah tersebut, termasuk di zona yang "selamanya terbayang" (permanently shadowed regions), selama setidaknya dua jam.
Lingkungan di Kutub Selatan Bulan sangat ekstrem, dengan suhu yang diperkirakan bervariasi antara -50° Celsius hingga +70° Celsius. Axiom melaporkan bahwa mereka telah mencapai lebih dari 700 jam waktu bertekanan berawak dalam uji coba. Saat ini, AxEMU berada dalam fase Critical Design Review (CDR), dan setelah melewatinya, perusahaan dapat mulai membangun perangkat keras penerbangan.
Meskipun kemajuan ini penting, sebuah laporan rahasia yang bocor dari Jared Isaacman, seorang tokoh terkemuka dalam industri antariksa, menunjukkan adanya kekhawatiran yang beredar di balik layar. Laporan tersebut menyoroti "cerita yang simpang siur" mengenai status dan jadwal pakaian antariksa Axiom, mengindikasikan adanya kemungkinan penundaan atau masalah yang belum diungkapkan ke publik.
Antares Amankan Pendanaan Rp1,5 Triliun untuk Reaktor Nuklir Mikro Antariksa
Dalam upaya mendukung visi NASA untuk eksplorasi jangka panjang di Bulan dan Mars, Antares Nuclear mengumumkan keberhasilan putaran pendanaan Seri B sebesar $96 juta (sekitar Rp1,5 triliun). Dana segar ini akan digunakan untuk merancang, membangun, dan menguji coba reaktor nuklir mikro dalam beberapa tahun ke depan, termasuk pengembangan perangkat keras, pengujian subsistem, fabrikasi bahan bakar, dan infrastruktur operasional.
Penggunaan energi nuklir, khususnya Fission Surface Power (FSP), dianggap sangat penting untuk menyalakan basis di Bulan dan Mars, serta untuk sistem propulsi nuklir guna mencapai transit cepat ke Mars dan planet luar.
Antares telah menyusun peta jalan yang ambisius:
2026: Melakukan demonstrasi reaktor berdaya rendah, Mark-0, di Idaho National Laboratory, yang bertujuan untuk memvalidasi fisika reaktor dan kontrol reaktivitas dari desain R1 mereka.
Awal 2027: Membangun reaktor penghasil listrik berdaya penuh pertama yang merupakan prototipe komersial, Mark-1. Reaktor ini akan memvalidasi kondisi operasi pada daya dan suhu penuh selama minimal 90 hari.
Perusahaan ini disebutkan sebagai "kontak kunci dan kepentingan komersial" untuk NASA dalam laporan Isaacman, menunjukkan dukungan kuat dari kalangan berpengaruh untuk mengalihkan dana dari program lain, seperti Space Launch System (SLS), menuju teknologi propulsi dan daya nuklir.
iSpace Beralih ke Komersialisasi: Misi Eksplorasi Air Bulan di Schrödinger Basin
iSpace, perusahaan pendarat Bulan asal Jepang, secara resmi mengakhiri program penelitian dan pengembangan HAKUTO-R setelah dua misi pendaratan yang gagal. Kegagalan ini, yang diklasifikasikan sebagai fase R&D, kini membawa iSpace memasuki fase komersialisasi awal.
iSpace menunjukkan komitmennya pada ekonomi cislunar (ruang antara Bumi dan Bulan) dengan menjalin kemitraan dengan Kurita Water Industries, sebuah perusahaan yang fokus pada ekstraksi dan pengolahan air. Kemitraan ini bertujuan untuk mengeksplorasi model bisnis ekstraksi sumber daya air Bulan, pengembangan muatan (payload), dan demonstrasi air menggunakan pendarat iSpace. Pemanfaatan sumber daya air Bulan dipandang esensial untuk mendukung pengembangan ekonomi cislunar.
Perusahaan ini memiliki jadwal misi komersial yang ambisius:
Misi 3 (2027): Dipimpin oleh korporasi AS dan dipilih untuk program Commercial Lunar Payload Services (CLPS) NASA. Misi ini akan menggunakan pendarat Apex One untuk mendarat di dekat Kutub Selatan Bulan, yaitu di Schrödinger Basin. Misi ini juga akan meluncurkan dua satelit relai komunikasi untuk memungkinkan komunikasi dari sisi jauh Bulan yang tidak terlihat dari Bumi.
Misi 4 (2028): Dipimpin oleh Jepang, menggunakan pendarat Seri 3 yang baru.
Schrödinger Basin adalah area dengan potensi sumber daya Bulan yang signifikan, termasuk es air, menjadikannya target utama bagi para ilmuwan dan calon penambang sumber daya antariksa.
Solusi AGI di Orbit: AetherFlux Luncurkan Data Center Bertenaga Surya
AetherFlux, sebuah perusahaan rintisan teknologi, mengumumkan rencana besar mereka untuk meluncurkan pusat data orbital yang dijuluki "Galactic Brain" (Otak Galaksi) pada Kuartal I 2027. Proyek ini digagas oleh CEO Baiju Bhatt sebagai solusi untuk mengatasi hambatan terbesar dalam pengembangan Artificial General Intelligence (AGI), yaitu kebutuhan energi.
Menurut Bhatt, jaringan listrik di Amerika Serikat tidak mampu mengimbangi lonjakan permintaan energi untuk data center AI, di mana pembangunan infrastruktur terestrial membutuhkan waktu hingga lima hingga delapan tahun.
"Perlombaan untuk kecerdasan umum buatan pada dasarnya adalah perlombaan untuk kapasitas komputasi, dan, sebagai perpanjangan, energi," ujar Bhatt. "Galactic Brain menempatkan sinar matahari di samping silikon dan benar-benar melewati jaringan listrik".
Satuan pertama pusat data komersial ini ditargetkan pada Q1 2027, yang kemudian akan diperluas menjadi konstelasi node untuk meningkatkan kapasitas. Rencana ini dibangun di atas pekerjaan AetherFlux sebelumnya dalam mengembangkan satelit tenaga surya antariksa untuk menyalurkan energi secara nirkabel ke Bumi menggunakan laser, terutama ditujukan untuk lingkungan yang sulit dijangkau atau basis militer.
Teknologi Eksperimental: Baterai Debu Bulan Berbasis AI
Laporan antariksa pekan ini juga menyentuh konsep teknologi yang masih berada dalam tahap awal. Perusahaan rintisan AI, Istari Digital, mengklaim telah menciptakan "vakum Bulan" yang dirancang oleh AI dan mampu mengubah debu Bulan (regolit) menjadi energi yang dapat digunakan untuk misi Blue Origin.
Teknologi yang masih minim detail ini diklaim dapat mengatasi kendala daya malam hari di Bulan dengan cara menghisap debu Bulan dan mengekstraksi panasnya untuk digunakan sebagai sumber energi. Namun, karena tidak ada rincian teknis atau demonstrasi kerja yang tersedia di situs web perusahaan, tingkat kesiapan dan realitas produk ini masih menjadi pertanyaan besar.