Trauma Banjir Bandang Menghantui Tapanuli Selatan: Warga Desa Ait Garoga Panik Kembali, Harapkan Bantuan Rumah dari Pemerintah
Tapanuli Selatan, Sumatera Utara – Warga Desa Ait Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, kembali dilanda kepanikan dan trauma ketika hujan deras mengguyur wilayah tersebut. Kabar mengenai kenaikan debit air di Sungai Ait Garoga membuat warga panik dan bergegas menyeberang menggunakan jembatan darurat, khawatir jembatan tersebut akan kembali hanyut terseret arus.
Kepanikan ini dipicu oleh trauma mendalam akibat banjir bandang besar yang menerjang desa tersebut pada 25 November lalu.
Jembatan Darurat Kembali Hanyut
Kekhawatiran warga Ait Garoga sangat beralasan. Informasi kenaikan air sungai datang langsung dari tim SAR yang bertugas di lokasi. Salah seorang petugas Tim SAR PT Air mengonfirmasi bahwa air sungai dari hulu sudah mulai membesar karena curah hujan yang masih tinggi.
Beberapa waktu sebelumnya, jembatan darurat yang digunakan warga serta jalan yang sedang dalam proses perbaikan telah kembali hanyut terbawa luapan air Sungai Ait Garoga. Kondisi ini membuat akses dan keamanan warga yang melintas, terutama dari Desa Anggoli ke Garoga dan sebaliknya, menjadi sangat tidak aman.
Harapan Hidup Baru dan Ketiadaan Hunian
Di tengah kepanikan dan hujan deras, kisah Sabar Siorus menjadi cerminan penderitaan warga yang kehilangan segalanya. Sabar hanya bisa terdiam memandangi puing-puing tempat tinggalnya yang hancur lebur dan nyaris rata dengan tanah akibat diterjang banjir bandang.
Setelah dua pekan tinggal di lokasi pengungsian, Sabar memberanikan diri kembali mendatangi bekas tempat tinggalnya. Ia mengungkapkan kebingungannya mengenai tempat tinggalnya selanjutnya setelah nanti keluar dari pengungsian.
"Enggak tahulah, Bang. Kita mau mentah, mau merantau, pokoknya cari hidup yang barulah, Bang," ucap Sabar, menunjukkan keputusasaan bahwa tidak ada lagi yang bisa dipertahankan di lokasi tersebut.
Minimnya Kejelasan Bantuan Rumah
Sabar menegaskan bahwa kehidupan di sana tidak akan mungkin berlanjut jika tidak ada pembangunan rumah baru dari pemerintah. Ia dan warga lain sangat berharap pemerintah dapat membangunkan rumah sederhana bagi mereka yang menjadi korban.
Namun, dua pekan pasca-bencana, Sabar mengeluhkan bahwa belum ada kejelasan sama sekali mengenai rencana pembangunan atau bantuan rumah dari pemerintah.
Selain kehilangan tempat tinggal, warga desa juga menderita kerugian besar karena kebun dan sawah mereka yang merupakan sumber mata pencaharian utama juga ikut hancur diterjang banjir bandang.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran ganda bagi warga Tapanuli Selatan: ancaman banjir susulan yang terus menghantui setiap kali hujan turun, serta ketidakpastian mengenai masa depan tempat tinggal dan mata pencaharian mereka.